Tidak selamanya kita harus belajar dengan orang yang wah menurut kita: berhasil dalam karir, berorganisasi atau bakti sosialnya. Seharusnya kita melihat dari esensi kesuksesan itu sendiri; yang pasti di dalamnya ada semangat, ketaladanan, pengorbanan dan spiritualitas; terlepas dari apakah orang tersebut religius atau tidak.
Siaga membantu tanpa harus menunggu
sampai kaya raya atau
mempunyai pengetahuan yang memadai
adalah sesuatu yang bisa kita petik dari perjalanan hidup orang tuaku khususnya ibuku. Beliau menerima orang, baik saudara maupun bukan di rumah untuk dia asuh atau sekolahkan. Pada saat bangkit untuk membuka rumah buat mereka, yang terbetik di pikiran orang tuaku khususnya ibuku adalah pikiran-pikiran seperti:
- Sudah selayaknya seorang kakak membantu adik-adiknya, apalagi ketika orangtua telah tiada.
- Kalau saya tidak menolong anak ini… kasihan sekali dia tidak bisa melanjutkan sekolah… gimana masa depannya nanti.
Terlepas dari akan menjadi orang sukseskah kelak orang yang diayominya itu, yang penting beliau berupaya semampunya untuk menolong.
Karena toh … Penentu kesuksesan adalah berbudi luhur dan cara kita memandang dan menjalani hidup. Seperti John C Maxwell dalam bukunya yang berjudul “Failing Forward” bahwa
“Kegagalan bukanlah tempat dimana anda akan tiba.
Sama seperti kesuksesan bukanlah peristiwa maka demikianlah pula kegagalan adalah bagaimana anda menangani kehidupan ini seumur hidup anda.
Tak seorang pun dapat menyimpulkan bahwa seseorang telah gagal hingga ia menghembuskan nafas terakhirnya.”
“Menghargai proses”, mungkin itu kata yang tepat dalam hal ini. Ketika kita bangkit mengabdikan diri untuk menolong orang lain berarti kita sedang menarik anugrah baik fisik maupun non fisik bagi diri kita sendiri. Maka kalau kita lakukan terus tanpa berkecil hati dan tetap semangat apalagi tetap berusaha bergembira ketika kita keliru, hal ini akan menjadikan kita terus berkembang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar