Sabtu, 16 Juli 2011
kecantikan & kebugaran?
PERJALANAN NAN CANTIK
Sudah sekitar 5-6 tahun saya tidak pernah bertemu dengan seseorang yang saya anggap sebagai kakak saya sendiri. Betapa mengherankan, saya melihat kok dia terlihat makin cantik di usia matangnya. Dan terasa lebih nyaman juga ketika berada di dekatnya. Ternyata yang mempunyai pendapat bahwa dia terlihat makin cantik, bukanlah saya saja. Beberapa orang yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengan dia juga menyatakan hal yang senada. Hari demi hari, bulan demi bulan yang kulalui bersama dia lagi, semakin menyadarkanku bahwa kecantikan dia bukan berasal dari keindahan secara fisik saja melainkan pancaran kecantikan yang berasal dari jiwa karena memperoleh tempaan hidup yang menjadikannya semakin matang dan lebih spiritual. Tempaan hidup yang sangat berat yang dihadapinya tidak menariknya sehingga melenceng dari potensi pendewasaan diri dan peningkatan kehidupan spiritualnya. Dia malah semakin tertarik pada Yang Maha Kuasa serta Maha Pengasih dan menyadari kelemahannya sebagai seorang mahluk dan berusaha bersandar pada Sang Pencipta. Walau sedang menghadapi masalah berat, dia tetap bersemangat untuk berbuat kebaikan pada orang lain. Sekali-kali dia memang membicarakan masalahnya padaku, tetapi mimiknya jarang menampakkan kesulitan berat yang sedang dihadapinya. Kesulitan yang bagiku adalah wajar jika dia menjadi pasien seorang dokter jiwa dan menjadi tergantung pada obat anti depresi. Dia berusaha menanggapi masalah dengan senyum dan tawa. Kadang dia juga mengajakku untuk menertawakan diri kami masing-masing dalam menghadapi cobaan hidup, saling memberikan semangat dan refleksi. Mengenang masa-masa itu, adalah masa pembelajaranku tentang arti pertemanan spiritual, manajemen stress dan tentu saja mengetahui sumber pancaran kecantikan dan kebugarannya. Sementara di kesempatan lain seringkali aku bertemu dengan orang yang secara fisik sebenarnya enak di pandang tetapi kekaguman akan keindahan itu berbaur dengan perasaan takut, kesan dingin dan kaku, membosankan atau bentuk ketidaknyamanan lainya. Berarti benarlah adanya bahwa kecantikan berasal dari jiwa seseorang bukan dari fisiknya saja.
Seiring waktu dan sekeras apapun usaha kita untuk memelihara keindahan dan kebugaran fisik, kita tetap tidak dapat menghindari takdir alami untuk menua. Hal yang menakutkan bagi kebanyakan orang. Suatu hari kita mendapatkan bercak noda di wajah atau di bagian tubuh lainnya, di hari lain kita mendapatkan selulit, jejak luka atau hal-hal lain yang menurut kita mengurangi keindahan dan mungkin membekas sampai akhir hayat kita. Pada suatu hari lain lagi kita mendapatkan kekenyalan dan elastisitas kulit berkurang, kebugaran dan ketahanan tubuh menurun. Lalu kenapa kita harus memelihara keindahan dan kebugaran raga kita, kalau toh akhirnya akan menua dan hancur. Raga kita dan keindahannya pastilah tercipta untuk suatu tujuan, sebab Sang Pencipta tidak mungkin menciptakan maha karyaNya karena iseng. Ajaran moral dari semua agama dan budaya menunjukkan bahwa setiap individu hendaknya beribadah pada Sang Pencipta dan mengabdikan diri untuk kebaikan sesama. Kekuatan untuk mengabdikan diri bukanlah kekuatan dari diri kita sendiri, melainkan anugrah dari Sang Maha Pemberi. Hal ini berarti hendaknya kita menjadi saluran rahmat bagi diri sendiri dan sekaligus bagi sesama makhluk lainya. Dan dengan kata lain, raga kita sebenarnya hanyalah merupakan alat. Setiap orang adalah berharga, alat atau saluran rahmat Tuhan yang unik, karena setiap orang dianugrahi bakat dan kesanggupan masing-masing. Mungkin ada benarnya kata-kata, “Jangan menuntut pada apa yang harus negara berikan pada kita, tetapi sadari apa yang telah kita berikan untuk negara”. Maksud saya dalam konteks ini, berbuatlah sesuatu yang berguna untuk sesama semampu kita. Terlepas dari apakah sesuatu itu merupakan hal yang sangat kecil dan sederhana ataupun sesuatu yang besar dan kompleks, yang penting lakukan suatu kebaikan sesuai kemampuan kita. Udara adalah sesuatu yang kasat mata, tetapi tanpanya tidak akan ada kehidupan. Hal ini adalah pelajaran hidup untuk kita, ketika kita merasa diri kita tak berarti. Dan ketika merasa berada dalam kemuliaan, berarti ada ‘udara’ yang tanpa disadari yang telah menyokong kemuliaan yang diraih. “Menjadi diri sendiri”, mungkin itulah istilah trendnya, tanpa bermaksud menjadi narsis; dan berusaha untuk puas dengan apa yang telah Tuhan anugrahkan. Raga adalah alat yang digunakan sepanjang hayat. Disinilah alasan seharusnya kenapa kita memelihara keindahan dan kebugaran raga kita yaitu sebagai bentuk tanggung jawab dan sekaligus rasa syukur atas kepercayaan dan takdir yang dianugrahkan pada kita.
‘Memelihara keindahan dan kebugaran raga’, bagi sebagian orang adalah tindakan seperti masuk dalam klub-klub kebugaran, melakukan olahraga tertentu, melakukan operasi plastik, berburu cream atau alat “ajaib”, melakukan diet tertentu, mengkonsumsi suplemen dan air tertentu, masuk dalam kelas kecantikan dan lain-lain. Banyak orang haus informasi dan mencari cara yang cocok untuk ‘memelihara keindahan dan kebugaran raganya’. Sebagian puas dengan cara yang mereka jalankan, sebagian masih jatuh bangun mencari yang betul-betul cocok, sebagian pasrah dalam kegagalan menemukan cara yang cocok atau pasrah karena berbagai keterbatasan yang ada. Teori demi teori muncul silih berganti, menyatakan cara mana yang lebih efektif dan efisien. Banjir informasi tak terelakkan. Kebingungan kadang menimpa kita untuk menentukan bagaimana cara memelihara keindahan dan kebugaran. Kita dituntut untuk cermat memilih dan memperbaharui informasi yang cocok untuk kita. Kita dituntut untuk terus belajar mengkaji diri, memilah dan memaknai pembelajaran yang terus kita dapat dari waktu ke waktu. Semangat akan mendapatkan cara yang tepat untuk memelihara keindahan dan kebugaran menjadikan kita: seorang pelajar seumur hidup. Semangat yang hendaknya berasal dari tanggung jawab dan rasa syukur atas anugrah Tuhan. Terlepas dari tepat atau tidaknya informasi dan keputusan yang diambil, tapi mental untuk menjadi pelajar seumur hidup membuat kita lebih menghargai proses kehidupan sehingga kita dapat menjadi lebih arif dalam menyikapi sesuatu. Betapa tidak, sewaktu semangat kita mengendur dan melalaikan tanggung jawab untuk memelihara keindahan dan kebugaran, lambat laun kita mendapatkan dampaknya pada berbagai sisi kehidupan kita. Ketika tubuh kita menjadi kurang bugar, aktifitas dan hubungan sosial kita pun terganggu. Hal ini juga kemudian mempengaruhi emosi dan cara kita bersikap di waktu-waktu selanjutnya.
Sayangnya kejadian mengendurnya semangat dan lalai dalam memelihara keindahan dan kebugaran terjadi berulang kali dalam perjalanan hidup kita, baik karena alasan ketidaktahuan,kedisiplinan atau hal lainnya. Proses jatuh bangun ini menjadi pembelajaran yang semakin menyadarkan kita pada kefanaan dunia dan segala kejadiannya. Kesadaran ini membuat kita akhirnya menghargai betapa nyamannya hidup terbebas dari belenggu batas keindahan fana yang sempit dan hampa, dan memaknai keindahan duniawi dengan spiritualitas. Kesadaran ini membuatku lebih menghayati kebenaran kutipan berikut:“Permasalahan di dunia ini berlalu. Dan apa yang kita dapatkan darinya adalah apa yang kita resapkan pada jiwa kita. Pada hal inilah kita seharusnya mencermati –menjadi lebih spiritual, semakin dekat pada Tuhan, walau apapun yang terjadi pada pikiran dan raga manusiawi kita.” -Shoghi Effendi.
Langganan:
Postingan (Atom)
